Kamis, 04 Oktober 2012

Jawa - Bali Overland (Jakarta - Surabaya - Denpasar - Desa Pengotan - Jakarta)

     Berawal dari Tugas, yang mengharuskan saya beserta tim (Adhe & Dani) yang merupakan rekan kerja saya di kantor untuk pergi ke Bali. Fun, relaxed, & Seriously, itulah yang kami pegang selama perjalanan, meskipun "diutus" untuk bekerja tetapi kami membawa semua itu dengan senang dan santai, tak lepas dari keseriusan dalam melakukan tugas utama kami yaitu untuk menjelajah & mengenal Bali pada umumnya, dan Desa Pengotan (Baliwoso) pada khususnya. Desa Pengotan adalah salah satu desa tua di Bali tepatnya di kabupaten Bangli yang masih mempertahankan struktur bangunan dan budayanya dari dulu sampai sekarang. Perbedaan yang terlihat di sini adalah struktur tempat tinggalnya. Rumah adat Pengotan mempunyai model yang disebut dengan jajar wayang (kekiri-kekanan). Sedangkan Baliwoso yang terletak di desa Pengotan, Bangli adalah sebuah camp petualangan agro dan budaya yang terletak di Dusun Delod Umah, Desa Pengotan, Bangli, Bali. Terletak di sekitar 1000 Mdpl, 70 km timur laut dari Bandara International Ngurah Rai Bali, 5 km Selatan Danau Batur, Kintamani, atau 15 km sebelah utara dari Bangli, sebagai ibukota dari Kabupaten Bangli.

           Mungkin sudah menjadi hal biasa bila pergi ke Bali "ala turis". Berangkat dari rumah, seret koper, naik taksi ke Bandara, terbang, dan tidak sampai dua jam sudah tiba di Bali. Tetapi bagaimana sih rasanya jika pergi "ala Backpacker??", se-capek apa?, mungkin akan menjadi pengalaman yang berharga bagi kami, perjalanan panjang sudah menanti dan kami akan mencoba berbagi cerita serta pengalaman-pengalaman apa saja yang kami dapat selama 2 (dua) hari perjalanan menuju Bali.

Let's Gooo....!!! ;)


        Setelah dirembukan dengan tim, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat pada hari Jum'at, 21 Sept 2012. Dengan persiapan yang hanya 2 hari membuat kami kesulitan untuk mendapatkan tiket kereta api yang kami inginkan, dari berbagai kelas yang ditawarkan oleh PT. KAI (Executive,Bisnis,Ekonomi AC & Ekonomi Non AC) hanya tersedia tiket Ekonomi AC dikarenakan Long Weekend. Bersyukur sih masih kebagian yang AC, karena ga kebayang deh kalau harus naik yang Non AC, mengingat perjalanan di kereta kurang lebih selama 15 jam... Wiiihhh!! tetapi dengan sudah diadakannya system booking online untuk kereta kelas ekonomi memudahkan kami untuk mendapatkan tiket, diberlakukannya peraturan baru tentang pembelian tiket harus sesuai identitas calon penumpang juga sangat efektif. Disamping dapat menurunkan jumlah calo tiket yang terjual pun tepat sasaran atau jatuh kepada penumpang yang membutuhkan, bukan kepada orang atau calo-calo yang tidak bertanggung jawab, cukup memuaskan.

Berikut Informasi Harga Tiket Kereta Api tujuan Jakarta - Surabaya yang kami dapat bila anda ingin menggunakan jasa Kereta Api menuju Surabaya :


Kelas Eksekutif 
- Bima (Gambir - Surabaya Gubeng)
- Argo Bromo Anggrek Pagi (Gambir - Surabaya Pasar Turi)
- Argo Bromo Anggrek Malam (Gambir - Surabaya Pasar Turi)
- Sembrani (Gambir - Surabaya Pasar Turi)
Tarif : Rp 325.000 - Rp. 405.000

Kelas Bisnis
- Gumarang (Pasar Senen - Surabaya Pasar Turi)
Tarif : Rp. 170.000 - Rp.260.000

Kelas Ekonomi
Gaya Baru Malam Selatan (Pasar Senen - Surabaya Gubeng)
Tarif :
  • Non AC     Rp. 33.000
  • AC             Rp. 145.000







Hari 1

     Meeting Point kami adalah di St.Pasar Senen, dimana stasiun ini hanya memberangkatkan kereta kelas Bisnis & Ekonomi. Kami menggunakan kereta Gaya Baru Malam Selatan yang dijadwalkan berangkat pukul 12.30 dari St.Pasar Senen. Tepat jam 10.00 WIB kami sudah tiba di St.Pasar Senen, untungnya kami sudah booking tiket lebih dulu via telphone sehingga kami hanya tinggal menukarkan struk transfer pembayaran tiket online kami ke loket penukaran dengan tiket resmi. Loket penukaran tiket bisa dibilang relatif sepi dibanding loket penjualan langsung yang sangat ramai dan antri lumayan panjang.

         Tiket sudah di tangan, tapi waktu masih menunjukan pukul 11.00 siang, sehingga kami memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu di area sekitar stasiun pasar senen. Banyaknya pedagang layaknya pasar memang memudahkan kami untuk memilih-milih mau makan apa, tetapi di lingkungan seperti ini kita juga harus pandai dalam memilih makanan, selain memilih kualitas makanan yang bersih dan terjamin kesehatannya, harga juga menentukan, jangan sampai kita ditembak oleh pedagang dengan harga yang tinggi, bahaya tuh.... ;) . 

          Setelah makan siang, waktu sudah menunjukan pukul 12.00 WIB, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke peron selatan untuk menunggu kereta datang. Penjagaan yang cukup ketat di pintu masuk peron juga sangat efektif, hanya calon penumpang yang memiliki karcis dan sesuai dengan identitas yang boleh memasuki peron, sehingga suasana di dalam peron cukup teratur dan tidak ramai dengan pedagang seperti dulu. Hmm.... Nyaman juga sih....


           
           Suasana di depan pintu masuk
Penjagaan yang cukup ketat di depan pintu masuk Peron












Salah satu penumpang yang sedang menunggu kereta
Hehehehe....


                          
Suasana di dalam peron tempat menunggu kedatangan kereta

        Pukul 12.30 kereta Gaya Baru Malam Selatan tiba di St.Pasar Senen, kami ber-3 pun bergegas naik ke kereta, dari 12 rangkaian gerbong, gerbong kami ada di no.9, karena untuk gerbong 1-8 merupakan gerbong untuk Ekonomi Non AC,kemudian disambung kereta makan, dan gerbong 9-12 merupakan gerbong Ekonomi AC. Calon penumpang pada saat itu cukup ramai sehingga untuk memasuki gerbong pun kami harus bergantian, tetapi karena sudah berlakunya nomor kursi (tidak ada tiket berdiri) membuat calon penumpang cukup teratur,tidak terburu-buru dan saling berebut tempat duduk.
  
             
                 Calon penumpang GBM Selatan
    
      Bpk Yusuf
         (Penumpang/teman berbincang kami sepanjang perjalanan)

                                            

Suasana di dalam kereta / gerbong ekonomi AC

Tepat jam 12.35, kereta Gaya Baru Malam Selatan berangkat dari St.Pasar Senen, tepat waktu juga sih, ga ngaret n molor kaya dulu. Suasana di dalam kereta pun cukup tenang, tidak ramai & padat seperti dulu yang dipenuhi oleh pedagang dari mana saja, sekarang lebih tertib, terawat dan bersih. Bahkan sudah tidak ada lagi penumpang yang merokok di dalam kereta. Untuk pedagang sendiri sekarang sudah tidak boleh lagi berjualan sampai naik ke dalam kereta, kalaupun ada itu hanya pada saat kereta berhenti dan ketika kereta berjalan kembali para pedagang turun kembali dan tidak ada yang naik kereta.

Sepanjang perjalanan banyak hal yang kami alami, dari apa yang kami lihat, dengar, sampai sesuatu yang kami perbincangkan.Tidak jarang hal-hal lucu & menarik sempat kami rasakan, dari penumpang sampai pedagang, ada saja hal/sesuatu yang kami tertawakan untuk menghilangkan jenuh & bosan di perjalanan yang membutuhkan waktu cukup lama ini. Hubungan Interaksi dengan penumpang lain pun cukup bersahabat, banyak hal seperti berbagi cerita serta pengalaman yang dapat kita sharing dengan penumpang lain,baik yang sebangku dengan kami maupun yang satu gerbong, karena kebetulan juga ada rombongan juga yang berjumlah 4 orang yang ingin mendaki gunung Merapi,sehingga banyak hal yang kita sharing bersama.

          


Pemandangan yang dapat dilihat dari dalam kereta, pada saat sore hari dan sunset.





Tidak terasa sore pun tiba menjelang malam, tak terlewat pemandangan sunset pun sempat kami lihat sepanjang perjalanan, hmm...ada yang lupa ternyata, "Cemilan",hehe... tidak ada diantara kami yang menyiapkan itu karena mungkin sudah banyak bawaannya dari masing-masing tas, tapi dari sekian banyak bawaan/tas,tidak ada yang membawa cemilan/makan kecil. Huft...ternyata tidak adanya pedagang yang berjualan cukup membuat kami kesulitan mencari makanan. Di stasiun pemberhentian tidak memungkinkan untuk turun karena waktu berhentinya cukup singkat (2-3 menit saja), untuk pedagang yang masuk ke kereta pada saat kereta berhenti pun tidak selalu apa yang kita mau.

Yang lebih dramatisnya, ada penumpang tepat di sebelah kami yang selalu makan, dan kami pun melihat di bangkunya banyak sekali makanan ringan seperti ciki,dll. sampai-sampai kami menyanyikan lagu "nyanyian kode" karya Warkop DKI sepanjang jalan namun dengan mengganti liriknya,hihihi.... seperti : "yang bungkus merah jangan di habisin...." di depan orang tersebut yang sedang asik menyantap makanannya. Entah penumpang tersebut dengar atau tidak, yang jelas sampai kami turun ciki tersebut (kebetulan warna bungkusnya merah) masih utuh berada di tempatnya (tidak dimakan) *_*. Tapi sayangnya tidak berhasil jatuh ke tangan kami (ngarep.com)

Akan tetapi kami terselamatkan di St.Cirebon, kereta yang lumayan lama berhenti karena harus menunggu kereta lain (Eksekutif) lewat, waktu tersebut kami manfaatkan dengan turun ke stasiun untuk membeli makanan ringan, sampai yang berat untuk kami makan karena perjalanan masih panjang.

Tak terasa sudah malam, akan tetapi tidak menurunkan semangat kami. Melihat sekeliling penumpang sudah banyak yang tertidur dan hanya kami ber-3 yang tertawa bahkan bisa dibilang berisik, tetapi dengan suasana seperti saudara yang kami alami dengan sesama penumpang lain membuat mereka yang rata-rata orang tua (bapak2 & Ibu2) mungkin maklum,hehe...
Malam pun makin larut, suasana makin sunyi dan makin dingin juga. Tidak seperti kelas Eksekutif yang serba lengkap fasilitasnya, bantal & selimut sudah ada di setiap bangku penumpang. Tapi lain hal di kereta Ekonomi, bantal & selimut disediakan namun harus menyewa dengan tarif Rp.6.000 /bantal/selimut. waktunya tidak dibatasi, alias sampai turun yang pastinya tidak boleh dibawa turun. Kami pun sempat ingin menyewa selimut karena AC yang makin dingin di malam hari, tetapi kami terkejut ternyata pada malam hari ada petugas kereta yang berkeliling dengan membawa remote, dan ternyata remote AC. Dengan remote di tangannya petugas tersebut menaikan suhu AC tersebut satu-persatu karena mungkin sudah banyak juga yang kedinginan, tetapi setelah saya tanya, ternyata memang setiap malam hari petugas tersebut memang berkeliling untuk menaikan suhu AC, dia bilang sih karena pada malam hari hawanya udah dingin, jadi AC nya ga perlu dingin2,, hmm...rajin juga yah.... ;)

Waktu pun sudah mengarah tepat di pukul 12 malam, dan diluar perkiraan ternyata lebih cepat dari perkiraan tiba sebelumnya. Awalnya yang di jadwalkan tiba di St.Surabaya Gubeng pukul 03.00 dini hari ternyata setelah saya tanya petugas perkiraan sampai di St.Surabaya Gubeng pukul 01.30, paling lama jam 02.00 pagi (lebih cepat 1 jam). Bingung mau melangkah kemana di Surabaya pada jam tersebut akhirnya kami memutuskan untuk transit di Kediri saja, yang kebetulan rekan saya (Dani) punya kerabat disana.

Untuk menuju Kediri, kami harus turun di St.Kertosono, tepat pukul 01.00 kami tiba disana dan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan ojek dari St.Kertosono ke Kediri. 30 menit perjalanan menggunakan ojek, dengan tarif Rp.25.000/motor. Lumayan jauh sih, tetapi perjalanan tidak terasa karen si pengendara ojek melaju dengan kecepatan tinggi, selain kondisi jalan yang sudah sepi karena sudah larut malam, tukang ojeknya juga sudah biasa dengan jalannya yang hampir tiap hari mereka lewati. Akhirnya kami tiba juga di rumah kerabat Dani, begitu sampai kami langsung bersih-bersih, makan malam dan istirahat. Huaahh...Senang rasanya ketemu kasur setelah lebih dari 12 jam di Kereta. ;)

Hari 2



Pagi yang cerah di Kediri, meskipun kami tidur larut malam setelah menghabiskan waktu di perjalanan 15 jam, tidak menyurutkan semangat kami untuk bangun pagi. Tak sampai dilewatkan pun di pagi hari untuk memetik buah mangga yang ada di halaman rumah kerabat/saudara dari Dani. Setelah Breakfast pun kami langsung memetik mangga tersebut yang cukup pendek ranting pohonnya sehingga memudahkan kami untuk memetik buahnya yang besar2.

Pak..pak, yang punya marah tuh

Tampang bangun tidur,
langsung disuruh manjat :(
Mangga metik mangga























Tak sempat berlama-lama di Kediri kami diharuskan untuk bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke Denpasar dikarenakan jadwal keberangkatan bus yang kami gunakan yaitu P.O Gunung Harta hanya ada pukul 13.30 dengan perkiraan tiba di Denpasar pukul 04.00 pagi. Rencana untuk explore Surabaya pun harus kami cancel, karena yang awalnya kami ingin menggunakan paket Surabaya Gubeng - Denpasar harus berubah karena paket tersebut sudah tidak ada lagi karena bus Damri dari PT KAI sudah tidak beroperasi lagi. Tetapi untuk kereta mutiara timur sih masih beroperasi sampai sekarang, jadi kalau mau ke Denpasar harus nyambung sendiri.



Akhirnya kamipun memutuskan untuk naik bus dari Kediri saja, ada beberapa bus malam yang melayani perjalanan ke Denpasar seperti :

P.O Gunung Harta
Tarif : Rp 170.000
Jadwal keberangkatan dari Kediri pukul 13.00
Jadwal Tiba di Denpasar pukul 04.00




       

















P.O Setiawan
Tarif : Rp 180.000
Jadwal keberangkatan dari Kediri pukul 13.00
Jadwal tiba di Denpasar pukul 04.00
        




Dari rumah kerabat Dani, kita harus menggunakan becak selama 30 menit ke tempat pemberhentian bus Gunung Harta, kami tidak perlu repot2 ke terminal karena sudah banyak agen2 bus malam dimana2. Sepanjang perjalanan menuju tempat agen bus malam kami melihat kanan kiri banyak sekali ladang jagung yang subur, dan memang di Kediri ini banyak dikenal penghasil jagung yang besar. Bahkan menurut informasi yang kami dapat jika saat panen jagung tiba, bnyak sekali ampas/sisaan jagung berterbangan sampai ke rumah2 warga yang jaraknya lumayan jauh dari ladang jagung tersebut, Hmm... harus sering2 menyapu halaman katanya, karena selalu tidak bersih / ngeres. 




Suasana sepanjang jalan
Di becak tetep Exist



                                                     
Tetap sabar menunggu bus :)

  















Tepat jam 13.00 kami sudah tiba di tempat pemberhentian bus tersebut, dan sambil menunggu bus foto2 pun tak terlewatkan :) sambil menikmati jajanan yang ada disekitar tempat kami menunggu bus.









Sesuai jadwal, pukul 13.00 bus Gunung Harta datang, kami pun langsung naik ke bus dan mencari tempat duduk sesuai dengan no kursi kami yang ada di tiket. Melihat fasilitasnya sih, hmm... lumayan lah untuk kelas bus Eksekutif, bersih & nyaman. Toiletnya pun juga bersih dan tidak bau :).

Fasilitas Bus Gunung Harta
- AC
- Lcd
- Karaoke
- Toilet
- Bantal
- Selimut
- Seat 2-2
- Snack
- Makan 1x








Gambar : Interior Bus PO Gunung Harta










Tepat pukul 13.30 bus berangkat dari Kediri menuju Denpasar, meskipun belum merasakan istirahat yang cukup setelah melakukan perjalanan selama 14 jam di kereta, sekarang kami harus melanjutkan perjalanan dengan bus selama lebih dari 15 jam. Huahh... Tetap Semangat.!!!
Hampir separuh perjalanan, tepatnya di kota Baluran, waktu menunjukan pukul 21.20, bus istirahat di RM Sumber Harta Baru yang merupakan agen dari PO Gunung Harta sendiri. Terlihat koq, dari warna cat rumah makan tersebut yang sama dengan warna cat bus Gunung Harta (hijau). Menu yang disajikan adalah :
- Nasi
- Ayam balado
- Telur dadar
- Sayur bening
- Teh manis

Setelah 30 menit beristirahat, bus kami kembali melanjutkan perjalanan, dan pada pukul 22.45 perjalanan memasuki kota Banyuwangi, terlihat disebelah kirijalan pemandangan laut yang indah di gelapnya malam, tapi sayang tidak terlalu jelas karena malam, mungkin kalau siang hari akan lebih indah dan menarik dilihat.


Pukul 22.53 bus tiba di pelabuhan ketapang, untung banget kondisinya lagi sepi sehingga begitu bus kami merapat langsung dapat naik ke kapal fery tanpa harus antri, mungkin kalau siang hari tidak se-sepi ini, bahkan untuk masuk ke kapalnya pun harus antri. Pukul 23.10 kapal berangkat dari pelabuhan ketapang, perjalanan akan memakan waktu sekitar 1 jam, untuk menghilangkan bosan, kami sempat keluar bus untuk melihat2 di atas kapal, tapi karena malam hari tidak ada yang dapat kami lihat di luar, dan fasilitas yang disediakan di kapal pun kurang memadai. Tidak sampai lama berada di luar bus kami pun kembali ke bus untuk istirahat sejenak, dan pukul 00.15 kapal merapat di pelabuhan Gilimanuk.



Setibanya di pelabuhan Gilimanuk, kami dan seluruh penumpang bus yang baru tiba diwajibkan turun untuk pemeriksaan KTP. satu persatu penumpang diperiksa untuk dilihat KTP nya masing2 dan bagi yang bermasalah atau tidak memiliki identitas akan diperiksa di kantor pemeriksaan setempat. hmm...cukup ketat juga sih, mudah2an dengan ketatnya peraturan seperti ini tidak ada lagi tuh yang namanya "Bom Bali.." ;)

Setelah seluruh penumpang selesai diperiksa, kami dan yang lainnya dipersilahkan kembali naik ke bus, dan kembali melanjutkan perjalanan.


Sepanjang jalan dari pelabuhan gilimanuk menuju Denpasar sudah mulai terasa berbeda dengan perjalanan dari Kediri sebelumnya menuju pelabuhan ketapang, dimana pemandangan sekitar sudah terlihat berbeda, dari bentuk rumah2 yang seperti pura, sampai pura kecil yang ada disetiap pintu masuk rumah selalu kita temui. Tidak terasa kamipun tertidur, dan ketika bangun bus sudah mau sampai di Denpasar. Pukul 04.00 sesuai yang dijadwalkan kami tiba di pool atau garasi bus Gunung Harta, dan ternyata untuk mencapai tujuan kami yaitu terminal ubung kami harus transit kembali menggunakan bus, dengan tambahan biaya Rp 5.000 kami langsung diantar menggunakan Mini bus dari Gunung Harta menuju terminal ubung. Jam 04.30 kami tiba di terminal ubung, kami memutuskan untuk istirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan ke Kuta. Suasana di terminal ubung membuat kami tidak tenang, banyaknya calo2, tukang ojek, sampai supir angkot yang selalu menawarkan bahkan sedikit memaksa jasa angkutan membuat kami merasa tidak nyaman, sedikit takut juga sih, maklum di daerah orang,hehe...


Hari 3


Terminal Ubung


Tujuan kami selanjutnya adalah menuju pantai Kuta, ini merupakan pengalaman pertama kami menyusuri Bali dengan angkutan umum, walaupun sempat membuat kami bingung, tapi dengan persiapan yang cukup membuat kami tau harus naik apa ke Kuta. karena sebelum melakukan perjalanan kami sudah mencari-cari informasi menuju Kuta dan berapa biayanya. Ternyata memang bermanfaat, setiba di terminal ubung kami sudah tau harus naik apa sehingga tidak mudah terpengaruh dengan tawaran2 para tukang ojek dan supir angkot yang tinggi dalam mematok harga. Memang jaraknya tidak dekat, tapi kan ga harus mahal juga bang..... ;)


Menurut informasi yang kami dapat sebelumnya dan berdasarkan survey ditempat langsung, ada beberapa cara menuju Kuta. Jika tidak mau repot dari terminal ubung bisa menggunakan taksi dengan tarif minimal Rp 100.000 (Argo), bisa juga dengan menyewa Shutle dengan biaya Rp 80.000/unit (kapasitas 4 orang), pas sih kalau ber-4 jatuhnya lebih murah, tapi kalau sendiri atau ber-2 jadi lebih mahal juga, kemudian ada juga yang carter angkot, tapi hanya bisa di waktu pagi hari saja, karena kalau siang hari angkutan umum sudah tidak bisa memasuki atau melewati sepanjang jalan Kuta, kalau masih pagi sih bisa2 aja, karena masih sepi, dan tarifnya Rp 75.000 / unit. (murah kan..??). Jika mau lebih murah lagi bisa aja, tapi sedikit repot. Dari terminal ubung naik angkutan (seperti kopaja)  ke terminal tegal dengan biaya Rp 10.000/orang, dari terminal tegal naik angkot ke jalan kuta dengan biaya Rp 10.000/orang, backpacker banget itu sih,hehe...


Tidak mau berlama-lama di terminal ubung dan hari pun sudah mulai terang, akhirnya kami memutuskan melanjutkan perjalanan. Angkutan yang kami gunakan adalah dengan menyewa angkot, dengan biaya seperti diatas yaitu Rp 75.000 / unit. 30 menit perjalanan menuju pantai Kuta akhirnya pukul 06.00 kami tiba di pantai Kuta. Wiiihh....keren abis, akhirnya sampai juga di Bali...... ;). Pantainya bagus, suasananya juga enak dan bikin kami betah berlama-lama disana.



Leo & Dani

                                    



                                






Suasana pantai yang masih sepi di pagi hari




Leo & Nita

Exist

Lagi nungguin ombak yang gede

keberatan tas :(

Enjoy in Kuta

Sun Rise is coming

Lagi mikirin gimana caranya pulang,, wkwkwkwk

Hufft... akhirnya sampe juga di Gn Semeru
*sambil nancepin bendera

kaya di bulan aja bang tancep bendera segala

kangen mamah dirumah ;)

Jangan nekad mas,mba,, masih ada jalan keluar
*(hubungannya ga di setujuin sama orang tua mereka)

1..2..3..   1..2..3..

upst... Jatoh deh

 Di luar pantai kami juga sempat berfoto-foto, bahkan ketika kami sedang berfoto di sepanjang jalan Kuta ada seorang ibu yang sedikit lancar berbahasa Indonesia menawarkan diri untuk mengambil gambar kami dan berfoto dengannya. Kata2 yang ia ucapkan dan masih saya ingat sampai sekarang adalah "kamu boleh memanggil saya ibu...!!!". Hmm.... anaknya cantik ga ya..?? (Ngareph).


Belum breakfast nih, karena belum tau kami cukup kesulitan mencari makan disekitar pantai, akhirnya kami bertanya kepada pedagang setempat, dan mereka pun menunjukan tempatnya. Tidak banyak pilihan, karena tidak ada toko atau warung yang menjual nasi di sekitar pantai, hanya penjual nasi bungkus dengan menggunakan sepeda yang ada, itupun dia mangkal di belakang gedung yang sedang dalam renovasi (di samping Hard Rock cafe) dan tidak terlihat. Menunya pun tidak banyak, hanya Nasi putih/kuning (optional), ayam, tempe, telur, sambal dengan harga Rp 5.000/bungkus. Murah juga sih, dan makanannya pun cukup enak dan tidak mengecewakan deh.



Mari makan... ;)






Salah satu pintu masuk pantai Kuta

Tidak terasa  jam sudah menunjukan pukul 08.00, kawasan sekitar pantai juga sudah banyak didatangi pengunjung, sudah banyak pula yang mulai melakukan aktifitasnya, dari pedagang, penyewaan tikar, penyewaan papan surfing sampai para pengunjung yang ingin surfing & berenang. Akhirnya pukul 08.30 kami pun dijemput oleh Pak Irwan, beliau merupakan pembimbing kami yang khusus menangani Baliwoso dan Hop On Bali yang bisa dibilang masih "sodaraan" dengan perusahaan kami yaitu Hop On Indonesia.


Setelah sedikit berbincang-bincang dengan Pak Irwan kami pun langsung melanjutkan perjalanan menuju Baliwoso. Disepanjang perjalanan Pak Irwan banyak bercerita tentang Bali, baik dari adat, budaya, sampai upacara2 apa saja yang selalu dilakukan oleh masyarakat Bali. Kami pun terkejut setelah mendengar bahwa ternyata banyak sekali upacara yang dilakukan masyarakat, bahkan dalam waktu 1 bulan bisa beberapa kali upacara, dan tak sedikit pula masyarakat adat Bali sering menghabiskan uang, waktu & tenaga hanya untuk upacara. Kami pun baru tau kalau ternyata di Bali meskipun satu agama (Hindu) tetapi setiap Desa memiliki adat yang berbeda2. hmm... ternyata selain kaya akan tempat2 wisata yang menarik, Bali juga kaya akan seni & budaya.




Akhirnya sampe juga deh, huft..lumayan jauh juga ternyata, waktu sudah menunjukan pukul 10.30 WITA, itu berarti 2 jam perjalanan dari Kuta. Kedatangan kami langsung disambut senyum ramah dan sapaan hangat dari para crew Baliwoso. mulai dari Nang Yuli (crew), Pak Gede (crew) sampai Pak Bayer (Camp Manager). Suasanapun langsung terasa berbeda, udara yang segar dan sejuk membuat rasa lelah kami setelah melakukan perjalanan selama dua hari terasa hilang seketika, pemandangan yang asri, suara gesekan daun serta bambu yang tertiup angin membuat suasana makin alami dan berbeda, enak banget dah tempatnya. hehe.. ;). Singkat berkenalan kami pun langsung diantar ke tenda tempat kami istirahat.



Tampak dari depan


Interior Tenda dengan kapasitas 3 orang
Tent family untuk 5 orang

Dany lukas di Bale Baliwoso
Setelah istirahat sejenak dan mandi, kami langsung melihat-lihat sekitar Baliwoso, ada 11 buah tenda dengan kapasitas masing2  tenda mampu menampung hingga 10 orang, fasilitas di dalamnya terdapat kasur, bantal, selimut, air mineral layaknya hotel, tapi ga perlu pake AC, karena selain bertemakan camping, cuaca disini juga sudah dingin melebihi pake AC ;). Uniknya seluruh bangunan disini dibangun dengan menggunakan tenda, seperti tenda makan yang berada di tengah area bermain. 

Tenda makan
Sampai toiletnya pun ada yang terbuat atau dibangun dengan bambu, lantainya pun di desain dengan batu2an, pokoknya bernuansa alami deh. Nuansa hijau pun sangat terasa dengan banyaknya pohon dengan buah2an yang ada di sekitar halaman seperti buah jambu, pepaya, markisa, terong belanda, dll. Dan asyiknya lagi kami boleh memetik semua buah yang ada disana, karena memang di Baliwoso ini semua tamu yang menginap disini diizinkan untuk memetik buah yang ada di sini. Fasilitas lainnya juga ada lapangan futsal, Bale bengong, dll. Untuk kegiatan yang bisa dilakukan di Baliwoso juga beraneka ragam, dari trekking sepeda, memanah, cubing, green action, dan masih banyak lagi.


Nang Yuli & Pak Gede
sedang membuat tray dari bambu

Setelah berkeliling kami kembali mengobrol dan berkenalan dengan crew Baliwoso yang pada saat itu sedang membuat kerajinan tangan seperti tray atau nampan untuk digunakan sendiri oleh mereka. hmm...ga perlu beli jadinya,hehe... ;). Disamping itu kami ber-3 juga sempat diajarkan beberapa permainan oleh Pak Irwan, Pak Bayer, dan Pak Gede. Seperti permainan tali, pyramid, daun pisang, dll.





Saya (kanan) dan Dani sedang berusaha memecahkan bagaimana
cara untuk melepaskan tali yang diikat di kedua tangan kami.



Huuftt... susah juga ternyata, dari tiga buah permainan yang dimainkan kami hanya mampu memecahkan 1 permainan yaitu pyramid, itu pun dengan 2x kesempatan, kesempatan pertama kami mampu menyelesaikan dalam waktu 8 menit, tapi dikesempatan ke-2 kami mampu memecahkan dalam waktu 2 menit, hebat kan,hehe...



Setelah bermain kami berkeinginan untuk mengexplore Desa Pengotan, tidak tau harus mulai dari mana akhirnya Pak Bayer menyarankan kami untuk ke Desa Adat Pengotan yang kebetulan lokasinya tidak jauh dari camp, dan kebetulan pula disana sedang diadakan upacara Barong. Upacara Barong adalah upacara untuk pengisian (pemberian nyawa) kepada barong yang baru dibuat oleh warga/masyarakat dari barong yang di tuakan atau sudah ada sejak lama yang kebetulan barong yang di tuakan tersebut dimiliki atau berada di Desa Pengotan. Pengertiannya dimana jika suatu desa baru memiliki barong, harus diisi atau diberi nyawa (dalam artian meminta izin) kepada barong yang dituakan. Jadi dari manapun asal desa tersebut kalau mau melakukan upacara tersebut ya datang kesini. begitu katanya...

Akhirnya kami diantar oleh Nang Yuli, melihat upacara barong, keliling Desa Adat, dan kembali ke camp.





















 
                                                 












 

 

 

 





Luar biasa ramai, yang lebih membuat kami kagum adalah sambutan para warga masyarakat setempat yang ramah dan santun. Meskipun kami baru menginjakan kaki di tanah mereka, namun sambutan mereka seperti layaknya saudara mereka. Hmm... ternyata ga semua orang Bali tuh galak-galk ya, tidak seperti yang kami temui di terminal ubung,hehe.... 
Setelah upacara barong selesai, kami pun menyempatkan diri keliling ke Desa Adat. Bentuk rumah yang unik dan tentu saja jarang kami temui di Jakarta. Setelah kami perhatikan ternyata seluruh bangunan di Desa Adat ini tidak ada yang memiliki atap yang tinggi, dan untuk didalamnya pun tidak ada kamar mandi atau WC, katanya sih dapat mengurangi kesucian, mangkanya semua bangunan atau rumah disini kamar mandinya selalu di luar.







Orangya ga ada pak
Leo, Dany & Nang Yuli


Salah satu rumah adat
Salah satu rumah adat


Nita & Leo
Dani lukas



Lelah juga ternyata, sbelum kembali ke camp kami pun mampir kerumah Nang Yuli yang kebetulan berdekatan dengan Desa Adat. Melihat sekeliling rumahnya yang tradisional namun serasa nyaman karena dikelilingi oleh pohon-pohon cempaka yang menjulang tinggi. Kemudian kami kembali ke camp, untuk menghilangkan lelah setelah berkeliling kami nongkrong di bale bengong yang lokasinya di seberang bukit dengan menyebrangi jembatan bambu. Tidak lupa jadi tempat sasaran foto2 berikutnya ;)



Jembatan Bambu
Jembatan Bambu

Jinongbar
gaya pemain basket

Bale Bengong
Gag sadar



Toilet bambu


Meski sudah banyak aktifitas yang kami lakukan ternyata belum membuat kami lelah, setelah dari bale bengong kami kembali berkeliling, tetapi kali ini dengan menggunakan sepeda, seru sih... berkeliling ke Desa Adat dengan melalui tanah perkebunan warga Desa Pengotan yang asri.

V.Rossi








Desa adat

Setelah puas bermain sepeda, dan waktu pun sudah sore hari akhirnya kami kembali ke camp, suasana menjelang malam pun sudah terasa berbeda karena suhu yang semakin dingin, dan pada pukul 19.00 kami makan malam di Baliwoso dengan ditemani hangatnya api unggun. Jarang-jarang nih di Jakarta nemuin yang beginian, hehe

Setelah makan malam kami banyak berbagi cerita dengan Pak Irwan, Pak Bayer dan beberapa crew Baliwoso, bahkan kami dikenalkan dengan Nang Gatot dan Pak Nyarke (Babe). Mereka adalah penduduk asli Desa Pengotan yang tau banyak tentang adat Pengotan, mereka pun banyak berbagi cerita, meskipun tidak sebaya dengan kami, tetapi mereka masih memiliki jiwa muda seperti kami,hehehe.... terlihat dari cara mereka bergaul, mengobrol dengan kami, dan bercanda layaknya teman. Tetapi tidak menghilangkan rasa hormat kami kepada mereka. ;)

Hari makin malam, suhu pun semakin dingin yang pada saat itu mencapai 14 derajat celcius. Dingin sekali memang, kami pun langsung menuju tenda untuk beristirahat karena sudah larut malam. Satu lagi yang kami temukan disini adalah suasana yang benar2 berbeda dengan malam seperti biasa yang kami temui. Banyak sekali suara2 binatang malam yang kami dengar, seperti jangkrik, kodok, sampai terkadang suara burung hantu pun sampai di telinga kami, dan yang lebih sering terdengar adalah suara burung caku-caku yang nyaring sekali. Burung caku-caku adalah sejenis burung malam (seperti burung hantu) namun memiliki badan yang kecil, tetapi meiliki bulu yang lebat dan sayap yang lebar sehingga tidak terlihat kalau burung ini kecil. Burung ini hanya keluar pada malam hari untuk mencari makan, dan ketika siang hari mereka hinggap/tidur di bawah pohon bambu atau di atas daun yang tergeletak di tanah di area tempat yang teduh, tidak seperti burung hantu yang bergelantungan di atas pohon. Bener2 suasana yang liar nih....

Hari 4

Setelah berjuang melewati dinginnya malam akhirnya pagi pun tiba, udara yang segar langsung menyambut kami di pagi hari saat kami membuka tenda. Mandi..?? hmm ntar dulu deh,hehe... dinginnya masih terasa, cuci muka aja mikir, apalagi mandi...... airnya dingin banget, ga kuat kalau harus mandi. Akhirnya kami langsung sarapan di bale bambu.

Setelah sarapan kami berencana untuk kembali keliling Desa, namun karena para crew sedang sibuk kami pun hanya berkeliling dengan sepeda di sekitar camp saja. Tak lama setelah itu kami kembali ke camp untuk beberapa permainan yang ada di sana. Seperti panahan, enggrang, dll. Saat siang tiba, panas mulai terasa karena matahari sudah mulai menampakan diri, tapi tidak sepanans di Jakarta, panas di Baliwoso ga lebih dari 20 derajat celcius pak, masih tetep sejuk,hehe..

Truss... makan siang deh, habis makan siang kami ingin merasakan buah terong belanda yang ada di sana, katanya sih enak buat di jus, akhirnya kami memetik beberapa buah terong belanda untuk di jus bersama Nang Yuli & Pak Gede. Rasanya enak banget, di jus dengan madu dan es dan diminum dengan soda, weehhh.... suegerrrr benerrr da ahh... sampe minum dua gelas ;).

Menjelang sore, suhu kembali menurun, merasa belum puas bermain kami melihat ada sekelompok anak2 Desa setempat sedang bermain bola di lapangan futsal Baliwoso, kapan lagi nih maen bareng mereka, akhirnya kami bermain bersama sampai ngos2an,hehe... ternyata meskipun masih anak2 mereka larinya kenceng2 juga, dan yang paling kuat sih napasnya ga abis2, saya dan Dani kualahan meladeni mereka yang rata2 masih anak2, udahan aja deh, dari pada kehabisan napas,hehe....

Akhirnya kami mandi, nah...kalo sore begini berani deh buat mandi, ga dingin2 amad. Setelah mandi kami langsung makan malam jam 19.00, dan menyiapkan upacara penyambutan untuk "Big Bos" yang mau datang malam ini,hehe....



Hari 5

Adalah hari pertama dari tugas utama kami di Bali, Setelah sarapan pagi, kami ber-3 diberi pengarahan untuk menjalankan tugas tersebut. setelah briefing kami langsung turun gunung dengan diantar oleh Pak Made. Tujuan kami adalah meng-eksplore Bali, dan untuk hari ini kami akan menjelajahi dari Kuta, Legian, sampai Seminyak. Banyak tempat2 yang kami kunjungi seperti patung kuda, Discovery Mall, Kuta, Monumen Bom Bali, dan masih banyak lagi. Di jalan Legian yang dulu merupakan tempat terjadinya tragedi Bom Bali sekaran sudah kembali ramai dan banyak wisatawan manca negara yang tersebar di sini. Terlihat nama2 korban Bom Bali yang terukir di monumen tersebut, kami pun sempat berfoto dan berjalan-jalan untuk melihat-lihat sekitarnya. Unik juga sih, bentuk monumen yang hanya lebih menyerupai taman kecil, bukan gedung atau bangunan lain yang bisa kita lihat. hmm... kenapa dinamakan monumen ya?? ;)

Setelah itu kami kembali mampir di Central Parkir, kebetulan hari sudah siang kami pun memutuskan makan siang di Rumah Makan "Mbok Limbok". Bagi yang suka pedes2 recomended banget nih tempatnya, selain terkenal dengan sambalnya yang mantap n pedes, masakannya pun enak banget, lokasinya gampang koq, tepat di depan central parkir. Dan harganya pun tidak terlalu menguras kantong, standar lah....

Hmm... makan siang udah, tugas hari ini juga udah, mau kembali ke camp tapi masih siang nih, akhirnya kami lenjut ke Tanah Lot. 20 menit perjalanan dari central parkir, dan untuk retribusinya hanya Rp 15.000/orang + parkir mobil Rp 5.000. Baru saja melangkah masuk, toko -toko penjual kaos, dll sudah menggoda mata nih,hehe... jadi pengen belanja, tapi harus pintar nawar, karena para pedagang sering sekali mematok harga tinggi, emang sih bisa di tawar, tapi naekinnya kadang ga kira2. Karena berlokasi pantai kami pun lupa membawa baju & celana ganti, akhirnya kami beli deh. Untuk satu celana pendek saja mereka menawarkan dengan harga 45.000, setelah ditawar akhirnya mereka mau dengan 35.000 untuk dua buah celana pendek. Jauh kan turunnya?? harus pinter nawar intinya,hehe...

Untuk di dalam Tanah lot sendiri terdapat beberapa Pura, ada juga yang dinamakan sumber Air Suci, dinamakn demikian karena di yakini oleh masyarakat Bali sebagai air suci, hmm... memang sih, sumber air ini keluar di lokasi pantai / dekat dengan laut, tetapi rasa air tersebut tidak asin. Ada juga ular suci yang masih ada sampai sekarang, untuk melihat ular suci pengunjung diwajibkan memegang ular tersebut, dan tidak gratis, bagi siapa saja yang ingin melihat dan menyentuh ular tersebut diharuskan membayar tetapi dengan sukarela. Banyak yang bilang di Tanah Lot ini pas banget buat sunset, dan mumpung disini kami pun menunggu hingga sunset datang untuk berfoto-foto. 


Hari semakin sore, setelah sunset tepatnya jam 18.00 kami meninggalkan Tanah Lot untuk kembali ke camp Baliwoso. 2 jam perjalanan akhirnya tiba di camp dan langsung makan malam, merasa sangat lelah kami langsung menuju tenda untuk istirahat. Setelah berpanas-panasan di daerah Kuta dan sekitarnya, semuanya langsung hilang ketika kembali ke camp, dingin ;).


Hari 6

Di hari ini kami berkeliling ke Bali bagian Selatan seperti Jimbaran, Nusa Dua, Uluwatu sampai Tanjung Benoa. Setelah sarapan kami langsung berangkat jam 08.00 menuju Jimbaran, 2 jam lebih perjalanan akhirnya mengantarkan kami ke tempat tujuan wisata kami yang pertama yaitu pantai Kedonganan. Suasana yang berbeda kami temukan lagi disini, banyak perahu2 nelayan yang bersandar di tepi pantai karena memang daerah ini lokasi yang tepat untuk mencari ikan dikarenakan ombaknya yang tidak terlalu besar. Bau amis seperti ikan pun terasa ketika kami baru memasuki lokasi pantai, jadi pengen makan seafood nih,hehe....

Pantai yang bagus, ombak yang tenang membuat pantai ini berbeda seperti pantai lainnya seperti Kuta yang cocok untuk surfing. Di pantai ini lebih cocok untuk para nelayan yang ingin mencari ikan. Belum ada retribusi yang untuk para pengunjung yang ingin berwisata kesini, pengunjung hanya diwajibkan membayar parkir untuk kendaraan saja.

Setelah itu kami kembali melanjutkan perjalanan, kali ini tujuan kami adalah Garuda Wisnu Kencana atau GWK. Sepanjang perjalanan bau amis masih terasa dan kami banyak melihat restoran yang menyajikan seafood karena di jimbaran ini memang terkenal dengan restoran atau makanan seafoodnya. Hanya 30 menit kami sudah tiba di GWK, hmm... seperti ini rupanya, hilang sudah penasaran kami yang baru pertama kali melihat GWK, menurut banyak cerita sih katanya tempat ini bagus dan menarik, tapi setelah kami lihat ternyata biasa saja tuh,hehe.... tak banyak yang dapat dinikmati dan dilihat disini, hanya sebuah patung wisnu yang besar berdiri terpencar dengan tangan dan patung garudanya, entah sampai kapan ya pembangunan ini selesai menjadi satu.

Retribusi Garuda Wisanu Kencana
Dewasa : Rp 30.000
Anak     : Rp 25.000

Dreamland, menjadi tujuan kami berikutnya. Pantai yang tak kalah indah dengan pantai yang ada di Bali, hanya 20 menit dari GWK, dan memiliki pasir yang putih, airnya pun bersih. Pantai ini juga biasa digunakan oleh para wisatawan untuk surfing. Berikutnya adalah padang-padang beach, hanya 15 menit dari Dreamland dan ga kalah bagus & indah pantainya, hanya dengan membayar uang parkir kendaraan sebagai retribusi kita sudah bisa menikmati indahnya pantai yang mini dan tersembunyi ini. Kenapa dibilang tersembunyi karena akses menuju pantai ini dari lokasi parkir harus melewati himpitan batu besar yang hanya muat dilalui untuk satu orang saja, pantainya pun  tidak begitu besar namun cakep banget,hehe.....

Hanya berjarak 5 menit dari padang-padang beach kita bersandar di Blue Point, satu lagi wisata pantai yang wajib untuk dikunjungi karena keunikan dan keindahannya. Keunikannya adalah pantainya yang tidak terlalu besar sehingga bila air laut sedang pasang pantai ini tertutup oleh air laut dan hanya menyisakan sedikit pantai yang terlihat, kami yang pada saat itu tiba siang hari sayangnya tidak dapat membuktikan itu karena pada saat tersebut air laut sedang tidak pasang, tetapi untuk keindahaannya memang sudah terbukti & gag bohong ;)

Setelah itu kami menuju Uluwatu, yang hanya berjarak 5 menit dari Blue Point. Uluwatu merupakan tempat dimana didalamnya terdapat sebuah pura yang terletak di ujung bukit yang tinggi di tepi laut. Di sini juga terdapat monyet-monyet yang berkeliaran dan jika ingin menyaksikan tari kecak bisa kita lihat setiap hari dimulai jam 18.00 saat sunset dengan biaya Rp 70.000/orang. Untuk retribusi uluwatunya sendiri seharga Rp 15.000/orang, dan ketika memasuki area ini para pengunjung diwajibkan memakai kain (penutup) dan selendang yang telah disediakan di pintu masuk.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar